Opera Batak, Lestarikan Budaya Kehidupan Batak Lewat Pementasan

Opera bagi sebagian kalangan dikenal dengan pementasan sandiwara yang dramatis.

Di negara bagian barat opera dipentaskan dengan iringan musik klasik di mana kata-kata terhadap opera tidak dituturkan, melainkan dinyanyikan.

Opera merupakan istilah dari Eropa khususnya Italia. Seni opera ini juga menyebar ke berbagai benua diantaranya benua Asia. Di Asia terdapat beragam opera yang terkenal yakni Opera China, Opera Melayu, dan Opera Batak.

Opera Batak memiliki ciri khas menampilkan kebudayaan Batak. Jadi dapat dikatakan bahwa Opera Batak merupakan pembawaan opera dengan menggunakan gaya Batak.

Pelestari Opera Batak, Thomson HS mengungkapkan bahwa walau menganut opera yang berasal dari Eropa, namun opera Batak berbeda dengan opera yang berasal dari Eropa. Ia menuturkan bahwa dalam opera Batak menganut tiga unsur yang saling berkaitan.

“Potensi dari kebudayaan kita itu diangkat dengan cara drama seperti di eropa yaitu ada nyanyian, musik, lakon dan tarian. kalau opera yang berasal dari Eropa dapat terpisah baik dari musik, tarian, dan drama. Jadi makanya gaya Batak bukan gaya Eropa. tapi tiga unsur itu ada, ada nyanyi, lagu ada lakon dan tari,” ujar Thomson, Senin (24/2/2020).

Ia juga menambahkan dalam Opera Batak ini sangat berkaitan erat dengan musik, lakon, dan tarian. Menurutnya, tanpa adanya ketiga elemen ini bukan terlihat seperti menonton Opera Batak.

“Opera Batak ini ada tiga elemen yang harus digali yaitu tarian, musik, dan lakon. Kalau hanya menyanyi saja tidak sah, karena kita mau lihat sejarahnya tiga elemen ini digunakan. Kalau salah satu tidak dibuat kayaknya bukan seperti menonton Opera Batak,” ujar Thomson.

Opera Batak berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu pada tahun 1927 setahun sebelum sumpah pemuda. Opera Batak kemudian berkembang pada tahun 1930 dan populer hingga tahun 1970an.

Popularitas Opera Batak mulai menurun jelang tahun 1980an. Hal ini diungkapkan Thomson bahwa matinya Opera Batak karena diterjang oleh media seperti televisi dan bioskop.

“Alasan kita vakum itu karena munculnya televisi, pertarungan dengan bioskop, dan kemudian regenerasi. Umumnya seni pertunjukan seperti Ketoprak, Ludruk dan Opera Batak saat itukan kalah dibuat televisi dan bioskop. Hal ini karena sumber daya manusianya itu diserap oleh media yang baru,” ungkap Thomson.

Thomson juga menuturkan selain pengaruh media, faktor ekonomi juga termasuk sebagai alasan mundurnya kesenian Opera Batak ini.

“Opera ini urusannya bukan seni saja tapi urusan ekonomi. Fenomena lain ini ada urusannya dengan bos. jadi kalau bos grup itu tidak pintar ya habislah karena kan mereka jual karcis pertunjukkan,” ungkapnya.

Berpuluh tahun tertidur, pada tahun 2002 Opera Batak kembali di revitalisasi di Siantar. Merintis kembali sedikit demi sedikit kini Opera Batak kembali merambah ke ranah pementasan.

Naskah dalam pementasan Opera Batak juga seputar mengenai cerita rakyat seputar silsilah ataupun kepahlawanan.

“Naskah kita menceritakan macam-macam. kalau dulu menceritakan cerita rakyat. sumbernya baik mengenai silsilah, kepahlawanan, pembagian warisan kemudian juga sosial waktu itu karena masuknya pengaruh barat,” ujar Thomson.

Dina, Pemain Opera Batak ini sudah bergabung di tahun 2018. Ia menuturkan bahwa pelestarian Opera Batak ini perlu untuk kalangan anak muda agar tidak punah.

“Sangat bagus ya agar Opera Batak yang pernah tenggelam ini perlu dikembangkan kembali agar tidak punah. Karena hanya ini bentuk pertunjukkan di masa lampau yang dapat kita nikmati di masa sekarang,” pungkas Dina.



Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Opera Batak, Lestarikan Budaya Kehidupan Batak Lewat Pementasan, 
Penulis: Kartika Sari
Editor: Juang Naibaho

Team Direktori
Author: Team Direktori

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar