Cold Storage Logistic

Berikut penawaran rate beserta spesifikasi dari partner Kargo Bekasi untuk layanan Cold Storage Logistic Unit

Rute Jakarta-Medan Kota :

1.Unit Cde kapasitas 1-2 ton Rate : 14.500.000
2.Unit Cdd standar kapasitas 3-5 ton Rate : 16.000.000
3.Unit Cdd Box HDL kapasitas 4-6 ton Rate : 18.000.000
4.Unit Cdd Box Jumbo kapasitas 6-8 ton Rate : 20.000.000

Note :
-free 2 titik bongkaran jika lebih dari 2 titik
Bongkaran
-rate tdk termasuk biaya bongkaran SPSI jika
Ada
-jika unit menginap ada biaya tambahan 300rb
Per/malam.

 

Base from Jabodetabek to

Jawa Area :
– Semarang : Rp. 3.500.000
– Solo. : Rp. 3.850.000
– Jogjakarta : Rp. 4.250.000
– Surabaya : Rp. 5.250.000
– Malang : Rp. 6.000.000
– Mojokerto : Rp. 5.500.000
– Pasuruan : Rp. 5.650.000
– Probolinggo : Rp. 6.750.000
-Banyuwangi : Rp. 7.500.000

Bali Area : Rp. 9.000.000
Lombok Area : Rp.15.000.000

 

Sumatra Area

– Lampung : Rp. 7.500.000
– Palembang : Rp. 9.500.000
– Jambi : Rp.12.000.000
– Pekanbaru : Rp.15.000.000
– Medan : Rp.18.500.000

 

Kalimantan Area Via trucking :

– Banjarmasin : Rp. 30.500.000
– Balikpapan : Rp. 32.500.000
– Samarinda : Rp. 33.500.000
– Pontianak : Rp. 35.000.000
– Ketapang : Rp. 36.500.000

Note :
Delivery all route with unit trucking CDD Thermo & tonage standart capacity unit
Delivery with tronton unit price negotiation
Delivery with FCL-LCL container Reefer on
Route Sulawesi & Maluku price negotiation

 

1.Sub-Kalimantan Area ( DTD )
-Banjarmasin,Balikpapan,Samarinda,ketapang
Pontianak Rp.18.750.000
2.Sub-Koe/NTT ( DTD ) Rp.27.500.000
3.Sub-Manado ( DTD ) Rp.35.000.000
4.Sub-Makasar ( DTD ) Rp.32.500.000
5.Sub-Maluku utara/Ternate Rp.50.000.000
6.Sub-Bacan Halmahera malut Rp.55.000.000

Note : FCL Container Reefer 20 feet Door to Door service all in handling tonase maksimal
16,5 ton
Harga tersebut diatas diluar dokumen karantina pelabuhan.
Harga dapat di negosiasi berdasarkan jarak loading-unloading & harga dpt berubah sewaktu-waktu.

 

 

Untuk infotmasi bisa menghubungi Direktori Truk

Rem Blong, Truk CPO di Pesisir Selatan Masuk Jurang

Rem Blong, Truk CPO di Pesisir Selatan Masuk Jurang

Satu unit truk tangki bermuatan minyak sawit atau CPO mengalami kecelakaan tunggal hingga masuk ke dalam jurang di kawasan Jalan Raya Painan-Batang Kapas, Bukit Pulai, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), Jumat (15/11/2019) sekitar pukul 05.10 WIB.

Truk tangki CPO bernomor polisi BA 9125 RP itu dikemudikan Yudman Syahrul (50) dengan membawa seorang penumpang Rika (19). Keduanya merupakan warga Kampung Tigo Sungai, Kecamatan Inderapura, Kabupaten Pesisir Selatan. Meski selamat, sopir dan penumpang mengalami luka ringan dan telah mendapatkan perawatan medis.

Kasat Lantas Polres Pesisir Selatan, Iptu Yuliadi, membenarkan kecelakaan itu. Dikatakannya, truk diduga hilang kendali akibat mengalami rem blong.

“Truk datang dari arah Batang Kapas menuju arah Painan. Setiba di penurunan dari keterangan sopir, tiba-tiba rem truk blong sehingga hilang kendali,” ujar Yuliadi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/11/2019) sore.

Ia menyebutkan, saat hilang kendali, truk kemudian rebah kuda dan terseret ke dalam jurang sedalam 10 meter. Kondisi truk rusak akibat terguling di dalam jurang tersebut.

“Sopir mengalami nyeri di punggung, dada dan lecet ringan pada kaki serta tangan untuk penumpang mengalami luka robek dan lecet pada kaki kanan. Keduanya telah ditanggani tim medis di puskesmas terdekat,” katanya.

 

sumber: langgam.id

Pelindo I Kembangkan Pelabuhan Kuala Tanjung

Pelindo I Kembangkan Pelabuhan Kuala Tanjung

PT Pelindo l menggandeng Port of Rotterdam Authority (Belanda) dan Zhejiang Provincial Seaport Investment & Operation Group Co, Ltd. (China) untuk pengoptimalisasian pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara.

Kerja sama ini ditandai dengan Penandatangan Head of Agreement (HoA). Hadir menyaksikan Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) R. Agus H. Purnomo, Dirut PT  Pelindo I Dian Rachmawan, Direktur PT Pelabuhan Rotterdam Indonesia André G.F. Toet yang mewakili Port of Rotterdam Authority, dan President Director Zhejiang Provincial Seaport Investment & Operation Group Co, Ltd. Gong Liming.

Dirjen Laut Kemenhub,  R. Agus H. Purnomo mendukung, upaya kerja sama optimalisasi pelabuhan Kuala Tanjung itu. Utamanya, untuk mendorong layanan kargo dan bongkar muat yang lebih efisien hingga mendorong perekonomian.

“Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan semakin banyak kargo yang akan masuk melalui Kuala Tanjung Multipurpose Terminal sekaligus mampu mempercepat pengembangan kawasan industri di Kuala Tanjung yang terintegrasi dengan pelabuhan sehingga mampu mendorong perekonomian wilayah maupun nasional,” ujarnya.

Menurutnya, Pelabuhan Kuala Tanjung memiliki dua fungsi yaitu, sebagai pusat alih muatan kapal (transhipment) dan sebagai pelabuhan yang terintegrasi dengan kawasan industri. Untuk itu, keberadaannya diharapkan dapat menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing logistik Indonesia dengan negara-negara lain di dunia.

Agus juga mengajak seluruh pihak untuk menyukseskan pengembangan infrastruktur di Kuala Tanjung. “Mari kita bersama-sama bekerja keras untuk menyukseskan pengembangan infrastruktur di Kulala Tanjung untuk mewujudkan Kuala Tanjung menjadi hub internasional,” ujarnya.

Dirut PT Pelindo I Dian Rachmawan mengatakan kerja sama ini merupakan inisiasi untuk percepatan pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung  untuk menjadi pelabuhan kelas dunia yang terintegrasi dengan kawasan Industri. “Keduanya merupakan operator pelabuhan terbesar di Eropa dan Asia. Dengan pengalaman yang dimiliki diharapkan mampu mendorong Pelabuhan Kuala Tanjung menjadi pelabuhan kelas dunia sesuai dengan yang dicanangkan Pemerintah serta mampu mendorong pertumbuhan perekonomian wilayah bahkan nasional,” ungkapnya.

Adapun jangka waktu HoA ini adalah 1 tahun  meliputi pengembangan dan manejemen Pelabuhan Internasional dan Kawasan Industri Kuala Tanjung untuk menjadi Pelabuhan dan kawasan industri kelas dunia.

Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis Pelindo I, Ihsanuddin Usman mengungkapkan, potensi ekonomi yang bisa dicapai dari kerja sama tersebut mencapai 30 miliar dolar AS atau setara Rp 420 triliun. “Kapasitas yang akan dikelola (bisa menciptakan) 90 ribu lapangan pekerjaan terbuka. Dan kalau bicara ekonomi, sampai 30 billion dollar,” ujarnya.

Ihsanuddin menjelaskan, kerja sama itu akan meliputi pengembangan manajemen pelabuhan menjadi Pelabuhan dan Kawasan Industri kelas dunia termasuk multipurpose terminal. “Terintegrasi, biaya logistik lebih murah dan ekosistem lebih maju,” katanya.

Nantinya, ia menyebut, optimalisasi itu akan memiliki 4 fase. Tahap I telah diselesaikan pada akhir tahun 2018. Sementara saat ini, sedang pengerjaan fase II yaitu mulai pembangunan kawasan industri. “Fase II tahun depan paling lambat, mid of year sudah bisa bikin join venture. Fase kedua, kami sedang berdiskusi intens,” ujarnya. [KPJ]

 

Sumber: rmco.id

Alat Ukur Berat Truk Otomatis Dipasang di 8 Jalan Tol Desember

Alat Ukur Berat Truk Otomatis Dipasang di 8 Jalan Tol Desember

Pemerintah akan memasang alat pengukur berat angkutan barang atau truk otomatis (weight in motion atau WIM) di delapan ruas jalan tol pada Desember tahun ini.

“Akan dipasang di semua ruas, tapi akhir tahun ini titik awal di delapan titik, awal tahun 11 ruas,” kata Direktur Operasi PT Jasa Marga Subakti Syukur usai penandatanganan nota kesepahaman Pelaksanaan Pengamanan, Pelayanan Bersama Penegakan Hukum dan Pertukaran Informasi di Jalan Tol, Jakarta, Selasa, 12 November 2019.

Delapan ruas itu di ruas tol Jabodetabek dan nantinya akan dipasang di seluruh Tol Trans Jawa sementara itu yang sudah terpasang, yakni Tol Semarang dan Surabaya.

“Sudah operasional jadi akhir tahun delapan itu pasti. Awal tahun 2020, 11 ruas. Pertama untuk Jabodetabek dan Trans Jawa nantinya semua,” katanya.

“Di jalan tol itu WIM ‘weight in motion’ hanya menggunakan sinyal langsung bisa mengetahui berat dari angkutan kelebihan atau tidak dan kemudian di jembatan timbang kita itu dipasang juga WIM juga selain menggunakan aplikasinya jemabatan timbang online. Berat terdeteksi, dimensi terdeteksi, itu nantinya menjadi bank data,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi.

Pemasangan WIM merupakan salah satu upaya untuk mengurangi pelanggaran angkutan barang yang kelebihan muatan dan ukuran (overdimension/overload) di jalan tol yang saat ini masih sekitar 48 persen.

Selain itu akan dipasang kamera di setiap pintu tol untuk merekam angkutan barang yang ditengarai ODOL.

Budi mengatakan ke depannya juga akan dilakukan kesepakatan terkait prosedur secara teknis pengawasan WIM tersebut.

“Kita butuh semacam Memorandum of Agreement untuk mengatur lebih teknis, sistemnya seperti apa, SDM seperti apa SOP seperti kita akan ‘breakdown’ (urai),” katanya.

Dia berharap WIM juga dipasang di pintu tol kawasan industri dan untuk tahap awal dipasang di dekat putar balik.

“Sedang dikontrak semuanya harapkan Bulan Desember sudah terpasang, itu di pintu masuk tol yang masuk terutama dari kawasan industri, kita lagi buat SOP-nya. Kalau kemudian truk terdeteksi seharusnya ditilang, mungkin sekarang ada toleransi putar balik, bisa memungkinkan mobil untuk balik,” katanya.

ANTARA

Sering Lewat Jalanan Lurus? Hati-hati Kena Sindrom Highway Hypnosis

Pernah merasa lama-lama jadi bosan saat melewati jalanan lurus saja, hati-hati bisa kena sindrom highway hypnosis lho!

Lewat jalanan lurus kayak di jalan tol memang menyenangkan, apalagi kalau jalanannya enggak terlalu ramai sehingga waktu tempuh ke tempat tujuan terasa lebih cepat.

Enggak melulu jalan tol, ada juga jalan biasa yang lurusnya panjang seperti jalur pantai selatan (pansela) yang trek lurusnya sampai lebih dari 10 kilometer.

Meski enak karena bisa melaju dengan kecepatan tinggi, namun belum banyak yang tahu kalau jalanan lurus ternyata lebih berbahaya dibanding lewat jalanan berkelok seperti di pegunungan.

Menurut Marcell Kurniawan, Training Director The Real Driving Center, jalur berkelok membuat otak pengemudi tetap aktif dan dapat menjaga pengemudi untuk tetap fokus.

“Sementara jalan yang lurus dan panjang, dapat menyebabkan “highway hipnosis” dimana pengemudi bisa masuk ke fase “trance” (ngeblank) saat mengemudi,” ungkapnya.

“Yang lama kelamaan akan masuk ke fase micro sleep, ini sangat berbahaya mengingat saat di kecepatan 100 km/jam misalnya, per detik itu kita bergerak sejauh kurang lebih 28 meter,” lanjut Marcell.

Makanya beberapa jalan tol yang panjang dan lurus seperti Tol Cipali, dirasa lebih berbahaya dibandingkan dengan jalan berkelok di pegunungan.

“Di luar negeri banyak terowongan-terowongan lurus panjang yang menembus gunung, dibuat variatif dengan menggunakan lampu yang berbeda, ini bertujuan untuk menjaga driver tetap fokus,” katanya.

Lalu bagaimana caranya biar enggak kena sindrom highway hypnosis ini?

Mengutip dari wheelzine.com, ada beberapa trik sederhana biar kamu enggak cepat ngeblank gara-gara highway hypnosis.

Kalau kamu naik mobil bersama orang lain, usahakan tetap aktif berkomunikasi tiap beberapa menit namun jangan sampai juga komunikasi kamu jadi bikin enggak fokus mengemudi.

Ngobrol di mobil juga enggak perlu se-intens driver dan co-driver reli ya, yang penting enggak diem-dieman terus

Twitter/TGR_WRC
Ngobrol di mobil juga enggak perlu se-intens driver dan co-driver reli ya, yang penting enggak diem-dieman terus

Cukup lakukan perbincangan sederhana saja agar tidak merasa bosan.

Selain itu lakukan gerakan seperti mengatur posisi duduk beberapa menit sekali agar badan tidak kaku.

Lalu usahakan jangan makan terlalu berat sebelum mengemudi karena akan membuat cepat mengantuk dan membuat kamu cepat terkena highway hypnosis.

Makan secukupnya saja karena ternyata rasa lapar bisa membuat kamu sedikit terjaga, malah kalau beneran lapar akan memaksa kamu untuk berhenti sejenak di rest area untuk beristirahat.

Lalu saat berkendara jangan fokuskan pandangan pada satu titik karena akan mengakibatkan efek tunnel vision yakni hanya fokus ke satu arah dan bikin kamu enggak awas, selalu fokus pada keadaan sekitar kendaraan.

Ilustrasi rest area

Tribun Jateng/Amanda Rizqyana
Ilustrasi rest area

Kalau kebosanan sudah tak bisa dilawan lagi, jangan malas untuk berhenti sejenak di rest area dan keluar dari kendaraan. Berjalan kaki sekitar 10-15 menit baru lanjutkan perjalanan lagi.

Rasa bosan dan mengantuk yang mengarah ke sindrom highway hypnosis ini juga bisa muncul karena pertanda otak kamu kekurangan oksigen, solusinya bisa matikan AC dan buka jendela kendaraan agar angin segar bisa masuk.

Satu hal lagi, pastikan juga kamu sudah tidur cukup selama 7-8 jam sebelum berkendara jarak jauh.

Karena semua trik mengatasi highway hypnosis di atas jelas akan percuma kalau kamu habis begadang, ya jelas obat ngantuknya cuma tidur tuh!

Nah coba dipraktikin saja nih triknya buat kamu yang mau melakukan perjalanan panjang. Semoga selamat sampai di tujuan ya!

 

Sumber: grodoto.com

Tunggu SK Menteri PUPR, Tarif 16 Ruas Tol Naik Dalam Waktu Dekat

Sebanyak 16 ruas tol sedang menunggu persetujuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk melakukan penyesuaian tarif. Perubahan tarif tersebut menyusul tol Jakarta–Tangerang yang lebih dulu naik pada 2 November.

Tahun ini ada 17 ruas jalan tol yang telah mencapai batas 2 tahun hak mereka untuk mengajukan peninjauan ulang alias kenaikan tarif. Salah satunya, ruas Jakarta–Tangerang dan Jagorawi yang masing-masing mencapai batas 2 tahun surat keputusan (SK) tarif pada awal 2019. Namun, baru Jakarta–Tangerang yang disetujui untuk menaikkan tarif.

Sementara itu, SK tarif 15 tol lainnya berakhir pada akhir 2019, pada periode September hingga Desember 2019. Di antaranya, ruas Kertosono–Mojokerto dan Makassar Seksi IV yang SK tarifnya mencapai 2 tahun pada September 2019. Kemudian, ruas Cikampek–Palimanan dan Gempol–Pandaan mencapai 2 tahun SK tarif pada Oktober 2019 serta ruas Pasirkoja–Soreang yang mencapai umur SK tarif 2 tahun pada Desember 2019.

Sedangkan 10 ruas tol mencapai umur SK tarif 2 tahun pada November 2019. ”Kami mempertimbangkan banyak hal sebelum menaikkan tarif. Selain SPM (standar pelayanan minimal, Red) yang terpenuhi, kami juga memantau respons dari masyarakat terhadap rencana kenaikan tersebut,” jelas Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit kemarin (9/11).

Dia menjelaskan, persetujuan kenaikan tarif memang tidak melulu harus mengikuti jadwal habisnya SK tarif setiap BUJT (badan usaha jalan tol) yang berumur 2 tahun. Setelah ruas Jakarta–Tangerang disetujui, saat ini Kementerian PUPR dalam proses menyetujui perubahan tarif untuk tiga ruas tol lain. Yakni, Jagorawi, Mojokerto–Kertosono, dan tol Makassar Seksi IV. ”Mojokerto–Kertosono dalam proses, sudah di meja Pak Menteri. Kita tunggu beliau tanda tangan penyesuaian tarif,” jelas Danang.

Kenaikan tarif setiap tol berada di kisaran 6,5 persen. Hal itu berdasar perhitungan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Jika inflasi berada di kisaran 3 persen dan pertumbuhan ekonomi 5 persen, 2 tahun menjadi 10 persen.

Dalam Undang-Undang Pengusahaan Jalan Tol, Danang menjelaskan bahwa pemerintah menjamin hak BUJT untuk menyesuaikan tarifnya berdasar inflasi. ”Tapi, sekali lagi perhitungan inflasi ini kan di masing-masing daerah,” katanya.

Danang mengatakan, semua BUJT berhak mengajukan kenaikan tarif. Setelah pengajuan diterima Kementerian PUPR, akan dilakukan audit apakah pengelola ruas tersebut sudah memenuhi SPM pelayanan jalan tol. Kemudian, disertai pertimbangan-pertimbangan lain. ”Ada beberapa yang mengajukan, tapi karena belum memenuhi, kita tunda dulu. Kami minta mereka perbaiki dulu,” jelasnya.

SPM jalan tol ditentukan dari berbagai aspek. Mulai kondisi fisik jalan –meliputi keretakan, lubang, dan kerataan– sampai aspek layanan seperti kecepatan transaksi di gardu, waktu tempuh rata-rata, kondisi lingkungan, dan kualitas rest area.

 

Sumber: jawapos.com

Kerjasama Kembangkan Kurikulum Pendidikan Logistik

PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PMLI) dan ASEAN Federation of Forwarders Associations (AFFA) menandatangani kerjasama pengembangan kurikulum logistik.

Kerja sama ini dimaksudkan mengembangkan kapasitas dan kapabilitas SDM yang profesional di bidang logistik.

“Kurikulum yang digunakan berbasis ‘15 Core Curriculums in Logistics yang menjadi standar ASEAN,” kata Direktur Keuangan dan Pengembangan Bisnis PMLI, Edy Purwanto dalam keterangan pers,  Sabtu (9/11/2019).

“PMLI juga sedang dalam tahap untuk mendapatkan akreditasi sebagai penyelenggara pelatihan logistik skala global dari sebuah organisasi pelatihan kelas dunia,” ujarnya.

PMLI sebagai badan usaha yang fokus dalam pelatihan dan konsultan melihat visi pemerintah lima tahun ke depan ini sebagai momentum untuk aktif ambil bagian dan mewujudkan visi perusahaan menjadi mitra pembelajaran terbaik dalam peningkatan kompetensi SDM pada industri kepelabuhanan, maritim dan logistik di Tanah Air.

Chaiman AFFA, Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan pihaknya akan berperan membangun SDM logistik di kawasan dan saat ini telah mendapatkan kepercayaan keduakalinya oleh Sekretariat ASEAN yang didanai Pemerintah Jepang untuk membuat kurikulum pelatihan SDM logistik tingkat pemula berbasis digital pada tahun 2020.

“Indonesia yang memiliki penduduk usia produktif besar, seharusnya bisa mendorong SDM nya untuk bisa bersaing di tingkat internasional,” katanya.

Yukki membayangkan suatu hari nanti SDM logistik kompeten yang terlatih dari Indonesia bisa di-ekspor ke manca negara dan siap menyongsong Komunitas Ekonomi ASEAN 2025.

AFFA sebagai perkumpulan asosiasi pelaku industri logistik se-ASEAN yang sudah berkiprah selama 30 tahun adalah satu-satunya entitas industri logistik yang terafiliasi di sekretariat ASEAN yang telah dipercaya menjadi mitra ASEAN dalam pengembangan kurikulum pendidikan logistik dan menyediakan “pool of trainer” logistik berlatar belakang praktisi.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kerjasama Kembangkan Kurikulum Pendidikan Logistik,
Editor: Eko Sutriyanto

Jokowi Bentuk Kabinet, ALFI Minta Ada Otoritas Khusus Logistik

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia meminta pemerintah membentuk badan atau otoritas khusus yang bertanggung jawab mengurusi bidang logistik, mengingat momentum relevan dengan perubahan nomenklatur lembaga pemerintahan.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi menuturkan saat ini di Indonesia belum memiliki badan atau kementerian khusus yang bertanggung jawab soal logistik dan memiliki kemampuan mengintegrasikan lembaga/kementerian terkait terhadap bidang logistik.

“Untuk itu perlu dibentuk secara khusus [otoritas] di bawah pengawasan Presiden yang melibatkan berbagai unsur masyarakat yakni dari unsur akademisi maupun unsur praktisi untuk pengelolaan logistik negara,” jelasnya kepada Bisnis.com, Senin (21/10/2019).

Langkah ini, terangnya, penting dalam meningkatkan daya saing Indonesia dibandingkan dengan negara lain.

Dia menjelaskan logistik merupakan bagian penting yang mencakup perencanaan, pengaturan dan pengendalian arus barang, informasi, pemeliharaan, penghapusan, dan sumber daya lain suatu perusahaan dari hulu ke hilir.

Bagian ini merencanakan penyediaan barang yang harus ada di gudang yang kemudian dikirimkan kepada pembeli. Selain itu, logistik berfungsi memelihara barang agar selalu dalam kondisi yang baik dan layak pakai. Logistik menjadi salah satu bagian terdepan di dalam suatu bisnis.

“Biasanya gambaran sistem logistik yang dijalankan oleh suatu negara dapat mencerminkan kinerja daya saing ekonomi negara tersebut. Oleh sebab itu, peran manajemen logistik sangat penting dalam suatu negara,” katanya.

Sebenarnya, pemerintah sudah membentuk regulasi percepatan sektor logistik ini melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia No.74/2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map E-Commerce) Tahun 2017-2019. Lalu, Perpres No.26/2012 Tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional.

Cetak Biru ini menjadi panduan pengembangan logistik bagi para pemangku kepentingan terkait serta koordinasi kebijakan dan pengembangan Sistem Logistik Nasional. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional berfungsi sebagai acuan bagi menteri, pimpinan lembaga non kementerian, gubernur, dan bupati/walikota dalam rangka penyusunan kebijakan dan rencana kerja yang terkait.

“Kebijakan pusat dengan daerah harus dapat selaras dan saling memberikan kepastian dalam memudahkan serta memperlancar kegiatan usaha terutama terkait daya saing logistik,” tuturnya.

Dia menjelaskan biaya logistik di Indonesia masih tinggi yakni 23,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan porsi biaya logistik menyumbang sekitar 40 persen dari harga ritel barang.

“Indonesia tengah memasuki momentum yang mendesak untuk meningkatkan daya saing industri nasional tak terkecuali di industri rantai pasok dan logistik,” terangnya.

Saat ini, biaya logistik Malaysia dan Thailand sudah di bawah 15 persen dari PDB. Oleh karena itu, regulator, swasta, dan industri harus kerja keras apalagi 2020 era industri 4.0 akan dimulai.

 

sumber: bisnis.com

Ekspor Buah dan Sayuran Lokal Terganjal Biaya Logistik Tinggi

Ekspor Buah dan Sayuran Lokal Terganjal Biaya Logistik Tinggi

Tingginya biaya logistik menjadi penghambat ekspor buah dan sayuran lokal asal Indonesia. Padahal, banyak negara asing yang tertarik mendatangkan buah dan sayuran lokal asal Indonesia.

Demikian diungkapkan Senior Expert Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Bandung, Helma Agustiawan, di Bandung, Senin, 21 Oktober 2019. Menurut dia, pada ajang Trade Expo Indonesia (TEI) saja ada potensi ekspor buah dan sayuran dengan nilai kontrak sebesar 4,5 juta dolar Amerika Serikat (AS) ke Singapura.

“Dari harga dan kualitas produk, Indonesia jauh lebih unggul. Akan tetapi, saat berhadapan dengan biaya logistik, kita kalah dengan Malaysia,” tuturnya.

Indonesia harus mengirim buah dan sayuran tersebut dengan menggunakan pesawat. Biayanya tentu akan lebih tinggi dibandingkan dengan buah dah sayuran asal Malaysia yang dikirim menggunakan sarana transportasi darat ke Singapura.

“Selama ini biaya logistik memang menjadi persoalan terbesar bagi pelaku usaha Indonesia, apalagi ekspor. Sampai saat ini belum ada solusinya,” ujar Helma.

Ia meminta agar pemerintah mau turun tangan membantu memecahkan persoalan tersebut. Menurut dia, jika masalah biaya logistik terpecahkan, ekspor senilai 4,5 juta dolar AS sudah di tangan.

“Ini sudah pasti, kok, bukan pembicaraan mengawang-awang. Masalah biaya logistik terselesaikan, proses ekspor bisa dimulai,” katanya.

Bahkan, menurut dia, akan membuka peluang ekspor ke negara lain, seperti negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Amerika Latin. Seperti halnya Singapura, mereka tertarik dengan buah dan sayuran asal Indonesia, tapi terganjal biaya logistik.

“Sebetulnya dari dulu buah dan sayuran Indonesia banyak diminati buyer dari luar negeri. Mangga gedong gincu misalnya. Jepang tertarik untuk mendatangkan mangga gedong gincu dari Indonesia,” katanya.

Hanya saja, ekspor mangga gedong gincu ke Jepang terganjal isu lalat buah. Untuk menyelesaikan persoalan lalat buah ini, menurut Helma, diperlukan mesin FAT yang harganya Rp 5 miliar-Rp 12,5 miliar.

“Sampai sekarang para petani mangga gedong gincu belum mendapatkan fasilitas bantuan untuk mesin ini. Akibatnya, ekspor pun belum bisa dilakukan,” tuturnya.

Selain persoalan logistik dan teknologi tepat guna, menurut Helma, ada satu hal lagi yang harus dilakukan pemerintah guna menggenjot ekspor sayuran dan buah lokal Indonesia. Pemerintah, menurut dia, harus mendukung penelitian terkait teknologi pengawetan buah dan sayuran secara alami.

“Beberapa waktu ada rencana penelitian pengawetan buah dan sayuran dari dosen di salah satu perguruan tinggi ternama, tapi ditolak. Padahal teknologi seperti ini diperlukan untuk dunia usaha,” tuturnya.

Seperti diketahui, menurut Frost and Sullivan, Indonesia memiliki biaya logistik termahal di Asia. Biaya logistik do Indonesia mencapai 24% Produk Domestik Bruto (PDB).

Negara Asia lainnya yang memiliki biaya logistik tinggi adalah Vietnam, Thailand, dan Tiongkok. Secara berturut-turut biaya logistik dari Vietnam mencapai 20% PDB, Thailand 15% PDB, dan Tiongkok 14% dari PDB.

Sementara itu, biaya logistik di Malaysia, Filipina, dan India sebesar 13% terhadap PDB. Biaya logistik Taiwan dan Korea Selatan 9% terhadap PDB, sedangkan Singapura dan Jepang hanya 8% terhadap PDB.***

4 Truk Terlibat Kecelakaan di Bekasi, Kemarin

4 Truk Terlibat Kecelakaan di Bekasi, Kemarin

Empat kecelakaan yang melibatkan truk terjadi di Bekasi, Selasa (22/10/2019) kemarin. Berdasarkan data yang dihimpun Kompas.com di lapangan maupun via media sosial, tiga merupakan kecelakaan tunggal, satu melibatkan kendaraan lain.

Tidak ada korban jiwa dalam empat peristiwa itu. Kecelakaan pertama terjadi di KM 14 Tol Jakarta-Cikampek arah Jakarta, yakni pada pukul 05.30 WIB.

Truk bermuatan pelat besi seberat 60 ton oleng dan terguling. Diduga, sopir truk mengantuk. Tambah lagi, truk kelebihan beban sehingga kian sulit dikendalikan lajunya.

Proses pemindahan truk pada kecelakaan pertama itu merupakan yang paling berat. Butuh 16 jam bagi petugas Jasa Marga untuk memindahkan truk tersebut, lantaran muatan yang berlebih.

Akhirnya, petugas harus memotong-motong muatan. Penyingkiran truk tuntas pada pukul 21.30 WIB. Selasa siang, satu unit truk terlibat kecelakaan tunggal di Flyover Kranji, Jalan Sultan Agung, Bekasi Barat. Rem truk tersebut blong.

Ketika melaju dari arah Jakarta menuju Bekasi dan menemui tikungan di flyover, truk lepas kendali dan menabrak separator.

“Sopir ingin banting stir ke kiri tapi ada sepeda motor, sehingga dibanting ke kanan menyebabkan truk menabrak pembatas jalan dan naik median jalan,” ujar Kepala Seksi Pengendalian Operasi Dishub Kota Bekasi, Bambang Putra kepada wartawan, Selasa malam. Dari pantauan Kompas.com di lokasi, kecelakaan itu sempat membuat macet kendaraan dari arah Jakarta.

Petugas Dinas Perhubungan sempat menutup jalan selama beberapa menit untuk memindahkan truk.

Selasa tengah hari, satu unit truk bermuatan gandum terbalik di bilangan Bulak Kapal.

“Penyebabnya, ban truk pecah sehingga truk kehilangan kendali. Enggak ada korban,” ujar Bambang. Di waktu yang tak jauh beda, kecelakaan juga terjadi di Jalan Narogong, Rawalumbu.

Kali ini melibatkan truk kontainer dan mobil boks. Dua kendaraan itu adu moncong. Mobil boks yang terlibat dalam kecelakaan itu menghindari sebuah sepeda motor saat melaju dari arah berlawanan dengan truk.

Polisi meminta agar para perusahaan logistik maupun pemilik truk mematuhi peraturan lalu lintas serta memeriksa kondisi kendaraan sebelum beroprasi. Pasalnya, rata-rata kecelakaan kemarin disebabkan human error.

“Ini kan rata-rata penyebabnya karena kelalaian. Ini harus jadi perhatian, periksa rem jangan sampai terjadi rem blong. Jika mengantuk atau lelah jangan paksakan untuk jalan,” ungkap Erna Ruswing Andari, kepala Subbagian Humas Polres Metro Bekasi Kota dalam keterangannya pada wartawan, Selasa malam.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “4 Truk Terlibat Kecelakaan di Bekasi, Kemarin”
Penulis : Vitorio Mantalean
Editor : Egidius Patnistik